Rabu, 20 Februari 2019

19 Feb 2019

Teruntuk angan-angan yang telah dipenuhi keinginan
Teruntuk harapan dan cita-cita yang hendak segera terbang
Pada malam-malam yang mulai terisi kerlipan bintang
Pada hembusan angin yang mulai terhalang sekat
Jika penyesalan memiliki bentuk, maka buruk rupa ku tidaklah berarti
Jika penyesalan memiliki suara, maka teriakku tidaklah terdengar
Penyesalan hanya muncul dalam jelmaan sebuah perasaan
Melebur bersama waktu yang detik nya seolah mulai beranjak pelan
Pada kesalahan dan nestapa yang tidak lagi memiliki arti
Seolah menjadi kebiasaan untuk terus diulangi
Hal seperti ini bukanlah cinta, bukan nafsu juga, namun kesempatan
Menerka-nerka pada sang waktu
Meyakini setiap celah yang mulai membelah
Kamu, ia, dan perempuan itu
Tidak pernah ada yang tahu siapa yang benar-benar salah
Tapi maaf selalu memiliki cara untuk dapat menghampiri

Rabu, 08 Agustus 2018

Life is a Pain

Hari ini ada seorang teman yang tidak sengaja berada di satu acara yang sama. Tampilanya necis, dengan blazzer, sepatu hak tinggi, make-up yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik.  Berbeda dengan saya yang hanya mengenakan baju semi kemeja warna coklat, kerudung yang berantakan dan tidak tegap, sepatu flat yang sudah terlihat lusuh, dan lipstik berwarna peach yang tidak terlihat jelas. Saya masuk ke ruangan tunggu yang sekaligus ruangan make-up dan ganti pakaian untuk tim tari. Kebetulan hari ini saya on duty sebagai official tim tari salah satu prodi di UGM. Saat saya masuk ruangan,  tim tari menyambut saya seperti biasanya, lalu teman saya tadi meminta saya duduk di sebelahnya. Lalu saya saya memulai percakapan untuk mencairkan suasana.
"Lah bukan nya kamu lagi magang ya?"
"Iya Naad, sengaja dateng kan di suruh jadi pembicara"
Jawaban dengan nada yang terdengar membanggakan diri. 

Baik, begini kelanjutannya. Teman saya sedang melakukan magang di salah satu perusahaan BUMN yang fokus terhadap pengembangan lahan pariwisata. Lebih detailnya dia menjelaskan kantornya berada di Bali. Berdasarkan penjelasannya, terlihat jelas bahwa ia sedang membanggakan dirinya atas pencapaian yang ia raih. Bagaimana tidak, magang di tempat enak tanpa halangan dan rintangan. Kira-kira begitu ceritanya. Diruangan itu tidak hanya ada saya saja, tetapi dengan tim rias dan juga para penari yang sedang bersiap-siap. Rata-rata penari adalah adik tingkat saya dan sisanya adalah teman satu angkatan saya. Bohong kalau tidak ada yang menyimak cerita teman saya tadi. Saya yakin semua yang ada di ruangan itu menyimak dan terkagum-kagum. Saya mengakhiri pembicaraan itu dengan bertanya " Bapak mu kerja di BUMN kan? " teman saya langsung jawab "iya", lalu kami sama-sama diam tak berbicara lagi hingga waktunya teman saya untuk naik ke atas panggung sebagai pembicara. 

Lalu, saya menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Saat itu saya dan Tim Tari sudah pindah ke belakang panggung, otomatis saya bisa mendengar pembahasan teman saya. Teman saya banyak menyampaikan petuah, kata-kata bijak, dan hal-hal wajar lain yang diberikan kakak tingkat kepada adik tingkatnya saat baru memasuki perguruan tinggi. Saya membatin " Kok bisa ya dia sebangga itu, padahal apa yang dia dapat saat ini adalah hasil titipan bapaknya". Teman saya itu tidak tahu rasanya jadi orang biasa yang harus menelpon banyak perusahaan hanya untuk melamar sebagai mahasiswa magang. Teman saya belum pernah merasakan penolakan saat semua lamaran yang diajukan tidak di follow-up kembali. Teman saya tidak tahu bagaimana rasanya bolak-balik interview dengan uang pas-pas an.

Lah, bagaimana saya tahu?. Karena memang begitu faktanya. Saya tahu betul siapa Bapaknya. Dia punya pengaruh yang cukup kuat, bahkan kalau mau, dia  bisa mengajak teman-teman satu kelas untuk ikut magang bersama dia di tempat yang sama. Teman saya itu mana pernah bingung mencari tempat magang, semuanya sudah disiapkan oleh Bapak nya. Teman saya mana pernah tahu sulitnya bolak-balik interview ke luar kota dengan uang pas-pas-an. Dia saja bisa terbang dari Bali menuju Jogja dalam beberapa jam saat menerima panggilan untuk menajdi pembicara, lalu setelahnya dia kembali lagi ke Bali untuk melanjutkan magangnya. Padahal acara yang ia datangi tidak begitu besar dans ama sekali tidak memberikan bayaran, hanya sebuah plakat saja dengan tulisan "pembicara". 


Tiba-tiba saya merasa menjadi orang bodoh untuk sesaat. Saya benar-benar berpikir apakah pihak panitia benar-benar menyeleksi pembicara dengan sangat baik? seharusnya untuk sebuah acara motivasi, materi yang diberikan bukan hanya hal-hal menyenangkan saja, tapi juga perjuangan-perjuangan untuk mencapai kesenangan tadi. Saya paham betul ada banyak sekali teman-teman saya yang mendapatkan tempat magang di tempat yang cukup baik dengan segala perjuangannya. Saya paham betul bagaimana teman-teman saya berkeluh kesah karena sulit mendapatkan tempat magang yang bagus tanpa adanya koneksi. Teman-teman saya juga mahasiswa UGM, tapi bermodalkan label universitas saja tidak menjamin jalan yang dilalui akan sama. Seperti saya. Bapak Ibu saya hanya rakyat biasa. Tidak punya kuasa untuk bisa menempatkan orang ditempat-tempat tertentu. Saya sebagai anaknya harus mencari satu per satu tempat yang mengizinkan saya untuk menjadi mahasiswa magang. Kehabisan banyak pulsa, menghabiskan uang untuk tiket PP Jogja-Jakarta untuk proses interview. Belum lagi harus mencari tempat tingal sementara selama magang. Pada akhirnya? setelah melalui masa-masa kritis tersebut, saya menyadari bahwa saya orang hebat walau saya rakyat biasa. Saya bisa magang di tempat yang baik dengan perjuangan saya. Bahkan sekarang teman-teman saya berlomba-lomba meminta informasi kepada saya bagaimana magang di temoat tersebut. Bukannya saya sombong, saya hanya membuka harapan teman-teman semua bahwa rakyat biasa pun sebenarnya punya kesempatan yang sama. Bedanya perjuangan kita jauh lebih rumit, tapi itulah proses. Proses yang membuat kita bisa menghargai setiap kenikmatan yang dirasakan. 


Jadi pada intinya, tulisan ini saya buat untuk semua mahasiswa baru dimanapun kalian berkuliah. Tidak masalah jika kamu tidak bersinar di kampus mu. Tidak masalah jika kamu tidak punya koneksi di mana-mana. Perjuangan yang kamu lakukan dengan upaya mu sendiri adalah sebuah pencapaian yang lebih baik dari apapun. Syukur-syukur kalau bisa lebih baik.Tidak perlu minder, kalau semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan, maka kita tidak akan pernah bisa belajar menghargai. Saya tidak mempengaruhi siapapun untuk tidak percaya dengan kisah-kisah inspiratif, akan lebih baik jika kita benar-benar tahu sisi perjuangannya.

 Sederhana nya begini, mereka yang terlihat enak ya memang hidupnya enak, tidak salah untuk menjadikan mereka ROLE MODEL. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang dia miliki dan tidak ada di diri kita, maka sekeras apapun kamu mengaguminya akan tetap ada jalan yang bersimpangan. Semakin kita besar, semakin kita tahu bahwa hidup tidak semudah kata-kata mutiara. Bagi saya, orang yang benar-benar hebat adalah mereka yang berjuang mati-matian untuk dirinya tetapi tidak lupa untuk membantu yang lain. Terlepas dari orang lain akan mengingat jasa mu atau tidak, yang terpenting kamu sudah berusaha menjadi orang baik. Mereka belum tentu bisa membantumu disaat sedang susah. 

Tidak perlu khawatir, kita punya waktu bersinar kita masing-masing. Selamat menempuh masa-masa sulit. Maksud saya adalah sulit menemukan orang baik dilingkungan yang mulai membutuhkan banyak nyali untuk bertahan. 

Selasa, 25 Oktober 2016

Teruntuk Sosok yang Tak Terbatas

Teruntuk Malam, yang sedang mengulum duka, yang sedang bersimbah pedih
Padamu yang tak bisa ku sebut namanya, sosok tangguh yang tak tahu batas
Terkadang, si kerdil ini selalu merasa tak sempurna
Dengan segala kekurangan yang membelenggu tubuh mungil yang rapuh ini
Sesekali sempat ingin berhenti, lalu pergi dan menghilang. Si kerdil ini tahu, dengan ia memutuskan menghilang maka dunia pun tetap tidak akan peduli.Jemari yang kecil, tubuh yang tak bisa tegap, langkah kaki yang terhuyung. Si kerdil ini mulai bosan dengan kehidupan. Dimana pagi akan selalu sama, lalu senja yang berganti malam. Dunia ini ramai, tapi entah mengapa si kerdil ini merasa tak punya satu orang pun untuk berkeluh kesah. Si kerdil ini tau Tuhan bersamanya, namun setiap perih ia merasa bahwa Tuhan sedang pergi meninggalkannya. Sesekali pernah terpikir, untuk apa si kerdil ini hidup? kenapa harus aku saat jutaan sperma lainnya berebut untuk dapat bertahan dan tumbuh dengan sempurna. Namun, si kerdil ini salah. Si kerdil ini hanya sesumbar rupanya. Si kerdil ini salah menilai Tuhannya. Saat si kerdil ini berusaha agar dapat lenyap dengan segera, di sisi yang lainnya ada yang sedang berusaha bangkit dan bertahan. Sosok yang berusaha memaknai setiap bisik Tuhan yang terdengar. Sosok yang selalu berusaha untuk mengerti mengapa Tuhan memberinya kehidupan yang berarti. Entah siapa yang jauh lebih beruntung, si kerdil ini dengan segudang mimpi namun tak memiliki jalan. Atau belaiu yang hidup dengan belas kasihan namun ia berusaha menutup matanya. Tanganku terlalu kecil jika diminta merangkul semuanya. Air mataku terlalu sedikit jika untuk menemaninya menangis dan berkeluh kesah. Nyatanya, ia juga kesepian, lebih kesepian ketimbang si kerdil yang tak tahu diri ini. Lebih sulit ketinbang segala nestapa yang melilit si kerdil ini.Tapi si kerdil ini masih saja mengeluh, masih terus merengek pada-Nya untuk penghidupan yang layak. Ternyata, bukan si kerdil ini saja yang merasakan kesepian. Seseorang yang hidup ditengah-tengah gelak tawa, namun tak bisa tertawa. Seseorang yang terlihat damai namun sebenarnya mengubur gundah sendirian. Berusaha tak terlihat menyedihkan, namun dunia memperlakukannya dengan begitu jahat. Saat ia harus berusaha untuk bertahan dalam barisan yang begitu aman, namun ia harus perlahan tergeser oleh ketidak sempurnaan yang begitu menyiksa. Saat ia berusaha menyamakan barisan , namun ia tahu semua orang HANYA berusaha mengerti. Itu lebih sulit ketimbang harus hidup dengan segudang masalah. Itu jauh lebih sulit saat kita ada dan bisa melakukannya namun dunia seolah tidak mempercayainya hanya karena kita SEDIKIT berbeda. Tapi Tuhan, terimakasih telah menciptakan manusia yang seluar biasa itu. Apalagi yang perlu dipertanyakan saat aku tahu bahwa kau memiliki segala jawaban yang sebenarnya tidak kau berikan secara langsung pada manusia kerdil seperti ku ini. Engkau mengajarkan ku bahwa tidak hanya aku saja yang merasa sulit. Engkau mengajarkan ku melalui orang-orang luar biasa ini agar tahu makna dari bertahan hidup. Engkau mengajarkanku bahwa tidak semua orang di dunia ini benar-benar mengerti dengan keadaan kita. Engkau mengajarkan ku bahwa menjadi berbeda bukan berarti tak dapat melakukan apapun. Terimakasih membuat malamku selalu terasa khidmat, Terimakasih membuatku selalu mengucapkan syukur atas segala sesuatu yang telah menjadi takdir-Mu dan itu adalah rangkaian kisah hidup dari si kerdil penuh mimpi ini. Terimakasih selalu memeluk ku dalam setiap luka yang begitu dalam hingga sulit dilupakan. Terimakasih kau telah mengirimkan seseorang yang dapat membuatku selalu mengingat-Mu. Semuanya sempurna, si kerdil ini tahu itu. Namun, Kau membungkusnya dalam kemasan yang berbeda. Orang itu, seharusnya tak perlu merasa sendirian. Dipojok ruangan dengan sepi yang dipikulnya sendiri. Orang itu, tidak perlu menundukkan kepalanya dengan segenap cerita yang hanya dia sendiri yang mampu mendengarkan batin nya kala berucap. Jika semua orang diciptakan memiliki hati yang baik oleh Tuhan, maka tidak perlu merasa berbeda saat ia tahu yang lain sedang tertawa. Jika mereka memiliki mata yang indah, maka tidak perlu ia menatapnya dengan nanar dan penuh kesedihan. Jika mereka memiliki telinga yang dapat mendengar suara indah, maka tidak perlu ia mengulang perkataan seolah tak dapat mendengar apa yang ia ucapkan.  Ia bukan pendosa yang sedang meminta belas kasihan. Ia bukan kutukan Tuhan yang perlu dihina dan di tertawakan. Ia adalah ciptaan-Nya yang sempurna dalam balutan yang lain.  Hingga segenap kata yang ingin kusampaikan telah berakhir pada kalimat akhir. Semoga selalu bahagia dan dalam lindungan Tuhan. Tidak perlu merasa bahwa dunia ini sunyi. Harusnya manusia-manusia itu dapat mendengar suaramu dengan baik jika memang mereka sempurna. Harusnya mereka dapat menatap dengan penuh kasih jika mereka dapat melihat dengan baik.Harusnya mereka dapat mengajakmu tertawa bersama, bukan malah membiarkanmu tertawa sendirian. HARUSNYA mereka paham bahwa kau pun sama dengan mereka. Terimakasih pada takdir-Nya yang tak sengaja membuat si kerdil ini dapat mengenalmu wahai sosok yang tak terbatas. Walau si kerdil ini sama gundah nya dan tak sempurna. Namun, ada harap yang begitu mulia yang saat ini aku miliki. Panjang umurlah dan bertahan dalam setiap hembus angin yang terasa perlahan namun merubuhkan. Berjalan lah dengan kaki yang begitu sempurna yang telah Tuhan anugrahkan. Aku, si kerdil ini dan kau pemilik kisah tak terbatas, kita berdua sempurna. Hanya itu saja. Dan mereka tak perlu tahu ini.

Kamis, 15 September 2016

Bait Lusuh yang Merindu

Jemari ini menari pada setiap huruf yang mengeja kerinduan
Perlahan dengan sangat teliti menjadikan bait-bait penuh makna
Satu kata yang terangkai dalam kalimat sendu penuh pengharapan
Satu kalimat yang menjelaskan gelisah dan lara yang ada

Aku ini manusia bebal
Aku ini hanya hembusan angin yang tak berarti
Walau terkadang sejuk ku menenangkanmu
Tapi tetap saja aku tak memenangkan mu

Terabaikan, pada ruang yang sepi
Terasing , pada ruang yang hampa
Tertunduk , pada tanah yang bisu
Terisak , pada waktu yang tak berhenti

Aku ini didepanmu
Lebih dekat daripada rasa mu yang tak terbalas
Aku ini dibelakangmu
Lebih dekat dari dukungan yang datang membayang

Namun aku ini tetap si kerdil
Yang tak sudi untuk kau lihat
Yang kau lirik dengan belas kasihan
Yang tak hebat seperti teman-temanmu

Kenyataanya, aku tetap manusia
Dengan kodratnya yang dapat merasakan cinta
Kenyataannya,  kau yang aku harapkan
Dengan segala kekurangan yang kututupi perlahan

Dan bait ini ku simpan dengan koma yang tak terbatas
Ada banyak kata yang belum ku temukan 
Kata yang menjelaskanmu
Bahwa kau pun rindu padaku


Sabtu, 05 Maret 2016

Rintih Mimpi

Aku seperti berpijak di atas kerikil yang tajam
Kala aku meyakini bahwa langkahku benar
Namun tak ada siapapun dibelakangku
Seperti dunia yang tak berpenghuni

Aku mencoba sekali lagi
Dengan meyakini bahwa ada cahaya dibalik semak
Sore itu gelap,tak ada jingga di langit-Nya
Aku sadar,dunia ini benar-benar tak berpenghuni

Seberapa kencang aku berlari
Seberapa keras aku berteriak
Aku akan tetap sendiri
Menapaki mimpi yang terlanjur ku yakini

Tidak ada sorak sorai penonton
Tidak ada tepukan gemuruh
Tidak ada tawa terdengar
Tidak ada hal yang semacam itu

Aku bak gabus yang terapung di atas air
Terus terbawa tanpa arah tujuan
Air yang jatuh dari langit
Terkadang dirasa begitu menyakitkan

Tak ada malaikat seperti yang didongengkan
Tak ada kurcaci yang setia menemani
Lagi dan lagi aku sendiri
Berdiri dalam keputusasaan yang menghujani

Aku ingin lekas berhenti
Lalu perlahan melangkah pergi
Menutupi diri yang penuh ambisi
Dan berbisik pada tuhan "Aku tak ingin ada dalam posisi ini"

Bukankah ini begitu menyakitkan?
Bukankah ini begitu menyesakkan?
Bahwa tak ada yang tulus ku dapati di lembah kosong ini
Ini bukan nirwana tapi lembah kerikil yang menakutkan

Rindu rasanya dalam dekapan hangat-Nya
Rindu rasanya terpejam dengan tenang di sepanjang malam
Rindu rasanya mendengar tawa renyah dari malaikat penjagaku
Rindu rasanya melihat dunia dengan suka cita

Aku,pada hari yang tak pernah berakhir
Pada luka kan kecewa yang terus mengiringi
Aku tak pernah menyesal terlahir
Tapi aku tak mungkin terus meyakini seorang diri



Dedicated for my family
With love Naadaa Kamilia Kesuma

Kamis, 25 Februari 2016

Langkah Rindu




“Rasanya , aku ingin berlari yang jauh saja. Tapi,aku tak berhasil membawamu beserta ku jika aku lari sekarang.”
Entah sudah berapa lama aku menapaki jalan ini. Peluh tak bisa ku redam agar tak terus menetes dengan bahagianya di seluruh tubuhku. Mentari pagi ini sudah menampakan diri. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang cerah untuk sebagian orang. Pukul 07.00 di kamis pagi. Aku harus terus berjalan agar tak terlambat menyambut kedatangannya.Oh bukan, tapi kedatangan mereka. Sejak pukul 06.00 pagi ini, aku sudah bergegas untuk pergi ke sekolahku. Terasa konyol memang, tapi inilah kenyataannya. Hari ini , akan menjadi hari yang begitu membahagiakan untukku jika berhasil berjalan menuju ke sekolah. Sepanjang jalan , otak ku tak hentinya memutar kenangan itu. Seolah aku kembali pada masa itu  , semuanya terputar dalam fikiranku bagai roll film lama yang di putar kembali. Aku masih ingat jelas, kali pertama berjumpa dengannya. Saat itu, aku hanya terduduk di sudut ruangan , tidak sendirian memang, ada banyak orang lainnya. Pertama kali itulah , yang membuatku mulai merasa gila karna rasa kagum yang tiba-tiba tumbuh menjadi ganas dan merenggut jiwaku perlahan. Semua orang membicarakannya, termasuk kawan-kawanku. Aku tak tahu mengapa mereka membicarakan orang itu. Bagai angin yang berhembus ditelingaku.Rasanya dingin menusuk saat semua pujian yang dilontarkan orang-orang itu tentang nya. Dia,yang terbaik katanya. Aku hanya mengangguk ragu saat mendengar penjelasan kawanku.Hingga akhirnya,dia, yang sedang kami perbincangkan , bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan ini.Aku ingat, sesaat sebelum ia pergi dari ruangan ini, orang itu tersenyum. Bukan padaku memang, tapi itulah senyum pertama yang membuatku berfikir bahwa tuhan begitu adil menciptakan makhluk sesempurna itu dengan senyum yang membuatku langsung jatuh hati padanya.  Dan hari itu pula saat dengan tak sengaja aku berlalu di hadapan 2 orang yang sedang berpelukan begitu erat.  Tidak, ada yang sedang membenamkan wajahnya pada tubuh seseorang sambil menangis.  Seperti sedang pupus harapannya, itu terdengar amat pilu , orang itu menangis dengan tersedu-sedu.  Perlahan ku lihat siapa orang itu.Ku palingkan wajah untuk melihatnya sambil terus berjalan di belakang kawan ku. Orang itu, dia menangis rupanya. Dan itulah pertama kalinya aku tahu bahwa tak ada manusia yang sesempurna dalam bayanganku.Saat semuanya gagal di raih, maka karang yang begitu keras pun, akan hancur jika terus diterpa air yang sangat banyak.
Semuanya sedang memenuhi fikiranku saat ini.Semua awal perjumpaan itu,sungguh aku tak pernah tahu akan ada kesempatan yang seindah itu dalam hidupku dapat bertemu dengannya. Gerbang tinggi menjulang dihadapanku.Dengan yakin, aku memasuki gerbang itu lalu berjalan menuju lapangan luas tempat kendaraan terparkir rapi. Aku gugup. Dapat ku rasakan detak jantung yang tak beraturan ini. Dengan seksama aku memeriksa kendaraan yang terparkir, namun hasilnya nihil. Aku tak mendapati mobil itu terparkir disini. Pikiranku melayang kembali. Pertama kali aku tahu namanya, pertama kali pula aku mendengar suaranya. Itu adalah kali kedua aku bertemu dengan nya dan itu pun secara tak sengaja . Aku  bertemu dengannya dalam satu meja pertandingan.Ini benar-benar menegangkan, saat aku tahu bahwa dia adalah rivalku. Namun, semuanya sirna saat hasilnya memihak pada tim ku. Lalu saat  menyapanya tanpa rasa malu ketika ia hendak pulang,aku tertawa melihat tingkahnya dan itu adalah yang tak pernah aku lupakan .  Rasanya, hari itu aku memang benar-benar bahagia.
Aku memutuskan untuk kembali saja. Mungkin lain waktu. Dan langkah kaki ku berjalan dengan perlahan meninggalkan tempat ini.
“Congratulation “ Orang itu berkata sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Ah , thank you” Jawabku gugup
Itu kali ketiga  aku bertemu denganya lagi. Setelah momentum kami bersalaman.Ia bergegas pergi dari hadapanku. Aku melihat punggungnya yang kokoh itu, sambil mematung.
“Salahkah tuhan jika aku meyakini bahwa ini semua adalah rencana mu? Salahkah jika aku meyakini bahwa ini bukanlah kebetulan yang terus berulang? Aku dibuat kagum olehnya,salahkah jika aku begini tuhan?” Batinku seraya melangkah pergi dari tempatku berdiri.
Hari itu, aku berfikir bahwa itu yang terakhir kalinya. Mengapa demikian? Karena  rasanya tuhan telah memberi banyak hal tak terlupakan diluar dugaanku .  Mungkin, saat itulah tuhan berbisik “Perjumpaanya cukup dengan kau yang berhasil membuat kenangan yang tak terlupakan denganya” Jika memang itu terakhir, maka aku akan mengerti,bahwa ada batas waktu yang tuhan berikan agar kita tidak terlalu terbuai.
Karena itulah, aku masih tetap hidup sampai perjumpaan keempat ku denganya.Aku pikir, sebelumnya adalah yang terakhir.Namun, tuhan masih memiliki agenda untuk membuatku dapat bertemu dengan orang itu lagi. Semuanya di luar logika ku.Aku berbohong pada kawanku ,bahwa orang itu akan datang,padahal, aku tak tahu sama sekali kebenarannya. Tepat pukul 11.00 siang, aku melihatnya di atas sana. Di balkon gedung ini, gedung yang sama denganku. Fokus ku buyar sesaat. Dia ada disini.Aku sempat berbincang dengannya. Lebih relaks dari sebelumnya. Mungkin, karena aku telah 4 kali bertemu denganya. Walau dalam setiap pertemuan ada jangka waktu yang cukup lama.
Semenjak hari itu, aku tak pernah mendapatkan akal sehatku kembali. Rasanya ada sesak yang mengerang untuk di keluarkan. Ada rindu yang menuntut untuk di curahkan. Aku tak bisa berbuat apapun. Dalam setiap detik yang kulalui dengan perasaan gelisah. Tuhan memang selalu ada untuk sekedar mendengar keluh kesahku tentangnya.
Pada malam sebelumnya, aku tahu hari ini akan datang. Dalam balutan gelap yang ku rasakan sepi. Hening, hanya tetes air di kamar mandi yang dapat ku dengar. Atas rasa rindu yang tak pernah terbalaskan. Aku tak tahu pada siapa aku harus melepaskan semua sesak yang tertahan cukup lama. Sudah setahun sejak pertemuan terakhirku. Aku masih saja berharap untuk dapat bertemu denganya lagi. Aku bercerita pada tuhan malam itu. Ku ceritakan semua nya, tanpa ada yang tersisa. Aku tak pernah malu mengatakan ini pada tuhan. Karena ini bukan kali pertama aku bercerita tentang orang itu pada tuhan. Dengan sadar, aku tahu bahwa semua yang ku rasakan sekarang adalah atas perasaan yang tuhan beri pada seseorang yang diciptakan-Nya begitu sempurna. Tuhan yang telah mengizinkanku dapat mengagumi ciptaannya itu. Namun aku sadar diri. Walau sudah sejak pertama aku mengagumi orang itu,aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa menjadi bagian yang diperhitungkan dalam hidupnya. Inilah masalah yang tuhan siratkan dalam setiap pertemuan antara aku dengan orang tersebut.
Sambil terus bercerita pada tuhan. Tak terasa , air mata yang biasanya dapat ku bendung, akhirnya tumpah mengalir dengan riangnya di kedua pipiku. Orang itu, telah berhasil membuatku terjebak dalam rasa kagumku pada nya. Orang itu, berhasil membuatku kehilangan akal sehat.
“Oh tuhan,aku benar-benar menyerahkan semua takdir ku pada-Mu.Alasan mengapa aku berjalan hingga ke tempat ini adalah agar aku tak terlalu sakit menerima kenyataan saat tiba disini. Saat aku berjalan , maka aku dapat merasakan lelah, sehingga saat harapanku pupus, aku akan berhenti untuk tidak meyakini lagi,karena meyakini seorang diri itu sangat melelahkan.” Kataku dalam hati
Saat aku hendak keluar melewati gerbang tinggi ini, aku terdiam. Mataku berhasil menangkap objek yang luar biasa membuatku terkejut. Mobil itu,mobil yang selalu membawa orang itu kemanapun ia pergi , berlalu di hadapanku. Aku berlari mengejar mobil tersebut. Lalu , mobil itu pun berhenti dan seseorang yang ku harapkan keluar dan menghampiriku yang kelelahan karena mengejarnya. Ya , karena kelelahan mengejarnya.Sesederhana kata-kata ku,bahwa mengejarnya selama ini dan sejauh ini , itu sangat melelahkan. Namun, itu hanya ada dalam khayalanku saja. Pada kenyataanya , aku masih terdiam disini. Aku tak melakukan apapun. Aku hanya mampu melihat mobil itu berlalu dari hadapanku dan menjauh lalu menghilang perlahan. Tak ada yang terjadi. Tak ada seseorang yang turun dari mobil tersebut. Tak ada hal seperti itu. Hanya gesekan ban pada jalan raya yang tersisa, atau bahkan asap mobil itu yang berhasil ku hirup saat ini. Aku tertunduk lesu. Ini benar-benar akhir rupanya. Semua agenda telah berjalan dengan baik , tuhan telah menyelesaikan antara aku dan dia. Ya , manusia yang sempurna itu.  Entah apa yang harus ku katakana untuk terakhir kalinya. Tapi , aku sungguh berterima kasih padanya.  Karena orang itu, aku bisa merasakan keadaan yang begitu rumit dalam sepanjang hidupku. Karena orang itu, aku belajar untuk terus tahu diri. Dan karena orang itu pula, aku belajar untuk dapat terlihat pantas dihadapannya. Jujur , sulit memang menerima kenyataanya , tapi mau diapakan lagi??
Perlahan aku melambaikan tanganku , sebagai salam pertemuan juga perpisahan yang begitu tak pernah ku bayangkan. Seolah telah merelakan itu pergi , sekali lagi,aku menahan sesak ku ini.
“Sehebat raja yang begitu di kagumi rakyatnya , kamu adalah raja terhebat yang aku temui dalam dunia nyata . Kamu mungkin hanya mengenalku sekedarnya saja . Namun , aku tak bisa mengelak bahwa aku begitu mengagumi rajaku yang hebat ini . Untuk dapat mengenalmu , aku butuh 2 kali pertemuan .Untuk dapat tertawa di hadapanmu , aku harus melewati 3 pertemuan  . Untuk dapat merasakan bahwa aku ini cukup diperhitungkan di depanmu , butuh 4 kali pertemuan . Aku harus menunggu selama itu . Tapi , dalam masa tungguku itu , aku dapat melakukan hal luar biasa agar saat kita bertemu kembali aku terlihat pantas untuk sekedar diajak bicara . Kamu  ,  yang secara tidak sadar mengajarkan ku untuk dapat tahu diri . Kamu , yang tanpa sadar membuatku mengerti bahwa tak mudah memiliki hal luar biasa dalam hidup ini . Terimakasih , terimakasih , terimakasih dan terimakasih atas semua kesempatan ini  . Terimakasih telah rela membiarkan ku masuk dalam setiap waktu berharga mu . Terimakasih sudah menyetujui untuk kebetulan mengisi beberapa waktu dalam hidupku . Perjanjian tersirat antara aku , kamu  , dan tuhan telah terpenuhi . Mengagumi mu , aku tak pernah melupakan campur tangan tuhan di dalamnya . Karena tuhan yang memberiku perasaan ini,maka semuanya aku kembalikan lagi pada tuhan . Selamat berjuang dalam jalanmu wahai rajaku . Sampai jumpa pada kisah yang lain . Aku hanya selalu berharap , aku pun masih akan menjadi bagian di masa depanmu”

Dedicated For My SRF
With Love Naadaa Kamilia



Kamis, 06 Agustus 2015

Cerpen "Cinta dalam Takdir Tuhan"

Entah lah, aku hanya menemukan namamu sebelumnya.Tanpa tau bagaimana rupa pemilik nama itu.Aku lupa tepatnya kapan, saat itu aku hanya menghabiskan waktuku untuk menahan lapar dan dahaga dengan cara memanggil sederetan nama  yang ada di atas tumpukan map yang siap untuk ku selesaikan.Satu per satu tumpukan itu mulai menipis hingga satu nama yang igin kuselesaikan , namun terhenti karena aku tak kuasa untuk memanggil namanya keluar dari mulutku ini.Perlahan namun pasti satu nama yang ku tunggu bagaimana rupanya , ternyata ada sejak tadi di belakangku.Celana jeans pendek yang dikenakan, baju lengan panjang yang sengaja ia singsingkan dan map berwarna kuning yang sedang dipegangnya erat.Aku hanya menatapnya sesaat sembari berlagak tak peduli bahwa pertanyaan dari sebaris nama yang kutemui dimiliki oleh rupa sedemikian itu.
Berapa banyak waktu yang kulewatkan semenjak hari itu.Ada sederet jadwal mendatang yang harus kujalani dengan sukacita disini.Kawan ku begitu riang menyambut pagi yang berbeda di depan gerbang sekolah.Febri , sang terhormat datang dengan wajah terkejut karena sekumpulan orang telah duduk menunggu hingga acara dimulai.Aku beranjak dari ruang kecil yang terjepi diantara kelas-kelas di sekolahku.Dengan terburu-buru aku menuju tempat terluas di hadapanku dan menghadapi banyak manusia asing disini.Kata demi kata yang ku ucapkan , dengan guyonan khas yang juga dilakukan oleh kawanku Ramses.Lagi dan lagi, aku dan Ramses dihadapkan pada berlembar lembar kertas dengan hiasan tinta hitam permanen yang isinya harus ku sebutkan satu persatu.Ada yang membuatku mengulas sebuah senyum dalam wajahku,ada nama yang tak asing yang pemiliknya sudah ku tahu bagaimana rupanya.Mahakarya tuhan yang begitu indah yang membuat ku memilih namanya tanpa ragu,walau kenyatannya aku baru tahu rupanya dalam satu perjumpaan.Lagi dan lagi, satu detik dua detik tiga detik berlalu , ada sedikit ragu yang kurasa saat sosok itu tak kunjung beranjak.Ada rasa khawatir jika beberapa waktu kedepan ia tak menjadi bagian dari kenangan yang hanaya kan terukir dalam 3 langkah tahun-tahun kedepan.Namun, ada yang beranjak lemah dan melangkah agak ragu di antara kerumunan orang -orang itu,membuatku menatap tak percaya dan seolah melumerkan rasa khawatir yang telah memuncak.Hari yang terasa begitu singkat.Hingga akhirnya sang rembulan muncul menghiasi langit malam.Raga yang lelah mulai terkulai dalam balutan selimut yang begitu hnagat,hingga terjaga.
Kumandang panggilan tuhan telah membangunkan tubuh malas ini untuk segera pergi menuju gerbang besar disebrang sana.Hari yang begitu berat saat semuanya harus berjalan seperti seharusnya.Ada secercah energi yang merassuk kedalam tubuh ku , saat ada harap yang tergabmbar dalam raut wajah yang tenah dari raga yang sedang berdiri tegak di tengah lapangan luas itu.Dalam hati aku sesumbar,mungkin aku bisa mendapat senyum utuh dari orang itu,senyum tulus yang bisa aku lihat saat ia memberikannya kepada kawanku yang begitu cantik jelita.Waktu sepekan berjalan begitu cepat, ada ratusan pertanyaan yang kubuat tanpa pernah aku tahu kapan jawabannya akan segera datang.Aku tertunduk lemas saat kudapati sesobek kertas dihiasi tinta hitam yang tak begitu jelas.Ada sebaris nama yang jelas kukenal dekat orangnya,wanita cantik yang sejak awal aku telah menyangka bahwa akan menjadi wanita pertama yang akan dekat denganya.Laki-laki dengan sketsa wajah sempurna yang dihias tuhan,melabuhkan hatinya di dermaga yang begitu tepat.Aku melangkah mundur perlahan.Kudapati rasa sakit yang menggebu dalam hatiku.Getaran yang tak beraturan dalam setiap aliran darahku.Aku kalah,aku gagal,aku tak bisa.Tak ada ang namanya keajaiban mengenai hati dan perasaan seseorang.Tidak ada yang namanya menerima apa adanya selama paras yang indah begitu jelas terlihat.Aku melangkah mundur dengan senyum simpul yang berhasil kubuat.Ada sekumpulan  manusia yang terduduk dihadapanku,ada satu dari sekian banyak manusia yang berhasil meretakan hatiku tanpa ia sadari.Namun waktu tetap berjalan.Seolah tak mungkin untuk menungguku,apapun yang akan dan sudah meretakan hatiku,tak mungkin bisa menyelamatkan nya dari rasa sakit.
Aku mengakhirinya dengan baik.Ada rasa lelah yang begitu berat kupikul dalam tubuhku.Kawan yang telah bisa merebahkan tubuhnya dengan sukacita,dan aku yang masih mencoba berbaring dengan rasa sakit dan pilu di hati.Dalam kenangan yang tak mungkin terlupakan,terimakasih telah meninggalkan sedikit kenangan yang bisa ku ingat untuk beberapa waktu kedepan.Ada papan berwarna violet yang tergantung rapi di tempat yang begitu naman bagiku,tempat berkeluh kesah dan tempatku berdoa dalam pelukan tuhan.Dengan segala kelebihan yang tak aku miliki, terimakasih telah membuatku sadar diri untuk tidak pernah jatuh hati pada makhluk sempurna sepertimu.
Diberdayakan oleh Blogger.

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Translate

Pages

Blogger templates

Blogroll

Author