“Rasanya , aku ingin berlari yang
jauh saja. Tapi,aku tak berhasil membawamu beserta ku jika aku lari sekarang.”
Entah
sudah berapa lama aku menapaki jalan ini. Peluh tak bisa ku redam agar tak
terus menetes dengan bahagianya di seluruh tubuhku. Mentari pagi ini sudah
menampakan diri. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang cerah untuk
sebagian orang. Pukul 07.00 di kamis pagi. Aku harus terus berjalan agar tak
terlambat menyambut kedatangannya.Oh bukan, tapi kedatangan mereka. Sejak pukul
06.00 pagi ini, aku sudah bergegas untuk pergi ke sekolahku. Terasa konyol
memang, tapi inilah kenyataannya. Hari ini , akan menjadi hari yang begitu
membahagiakan untukku jika berhasil berjalan menuju ke sekolah. Sepanjang jalan
, otak ku tak hentinya memutar kenangan itu. Seolah aku kembali pada masa itu , semuanya terputar dalam fikiranku bagai roll
film lama yang di putar kembali. Aku masih ingat jelas, kali pertama berjumpa
dengannya. Saat itu, aku hanya terduduk di sudut ruangan , tidak sendirian memang,
ada banyak orang lainnya. Pertama kali itulah , yang membuatku mulai merasa
gila karna rasa kagum yang tiba-tiba tumbuh menjadi ganas dan merenggut jiwaku
perlahan. Semua orang membicarakannya, termasuk kawan-kawanku. Aku tak tahu
mengapa mereka membicarakan orang itu. Bagai angin yang berhembus
ditelingaku.Rasanya dingin menusuk saat semua pujian yang dilontarkan
orang-orang itu tentang nya. Dia,yang terbaik katanya. Aku hanya mengangguk
ragu saat mendengar
penjelasan kawanku.Hingga akhirnya,dia, yang sedang kami perbincangkan ,
bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan ini.Aku ingat, sesaat
sebelum ia pergi dari ruangan ini, orang itu tersenyum. Bukan padaku memang,
tapi itulah senyum pertama yang membuatku berfikir bahwa tuhan begitu adil
menciptakan makhluk sesempurna itu dengan senyum yang membuatku langsung jatuh
hati padanya. Dan hari itu pula saat
dengan tak sengaja aku berlalu di hadapan 2 orang yang sedang berpelukan begitu
erat. Tidak, ada yang sedang membenamkan
wajahnya pada tubuh seseorang sambil menangis. Seperti sedang pupus harapannya, itu terdengar
amat pilu , orang itu menangis dengan tersedu-sedu. Perlahan ku lihat siapa orang itu.Ku palingkan
wajah untuk melihatnya sambil terus berjalan di belakang kawan ku. Orang itu,
dia menangis rupanya. Dan itulah pertama kalinya aku tahu bahwa tak ada manusia
yang sesempurna dalam bayanganku.Saat semuanya gagal di raih, maka karang yang
begitu keras pun, akan hancur jika terus diterpa air yang sangat banyak.
Semuanya
sedang memenuhi fikiranku saat ini.Semua awal perjumpaan itu,sungguh aku tak
pernah tahu akan ada kesempatan yang seindah itu dalam hidupku dapat bertemu
dengannya. Gerbang tinggi menjulang dihadapanku.Dengan yakin, aku memasuki
gerbang itu lalu berjalan menuju lapangan luas tempat kendaraan terparkir rapi.
Aku gugup. Dapat ku rasakan detak jantung yang tak beraturan ini. Dengan
seksama aku memeriksa kendaraan yang terparkir, namun hasilnya nihil. Aku tak
mendapati mobil itu terparkir disini. Pikiranku melayang kembali. Pertama kali
aku tahu namanya, pertama kali pula aku mendengar suaranya. Itu adalah kali
kedua aku bertemu dengan nya dan itu pun secara tak sengaja . Aku bertemu dengannya dalam satu meja
pertandingan.Ini benar-benar menegangkan, saat aku tahu bahwa dia adalah
rivalku. Namun, semuanya sirna saat hasilnya memihak pada tim ku. Lalu
saat menyapanya tanpa rasa malu ketika
ia hendak pulang,aku tertawa melihat tingkahnya dan itu adalah yang tak pernah
aku lupakan . Rasanya, hari itu aku
memang benar-benar bahagia.
Aku
memutuskan untuk kembali saja. Mungkin lain waktu. Dan langkah kaki ku berjalan
dengan perlahan meninggalkan tempat ini.
“Congratulation
“ Orang itu berkata sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Ah
, thank you” Jawabku gugup
Itu
kali ketiga aku bertemu denganya lagi. Setelah
momentum kami bersalaman.Ia bergegas pergi dari hadapanku. Aku melihat
punggungnya yang kokoh itu, sambil mematung.
“Salahkah tuhan jika aku meyakini
bahwa ini semua adalah rencana mu? Salahkah jika aku meyakini bahwa ini
bukanlah kebetulan yang terus berulang? Aku dibuat kagum olehnya,salahkah jika
aku begini tuhan?” Batinku seraya melangkah pergi dari
tempatku berdiri.
Hari
itu, aku berfikir bahwa itu yang terakhir kalinya. Mengapa demikian?
Karena rasanya tuhan telah memberi
banyak hal tak terlupakan diluar dugaanku . Mungkin, saat itulah tuhan berbisik “Perjumpaanya cukup dengan kau yang berhasil
membuat kenangan yang tak terlupakan denganya” Jika memang itu terakhir,
maka aku akan mengerti,bahwa ada batas waktu yang tuhan berikan agar kita tidak
terlalu terbuai.
Karena
itulah, aku masih tetap hidup sampai perjumpaan keempat ku denganya.Aku pikir,
sebelumnya adalah yang terakhir.Namun, tuhan masih memiliki agenda untuk
membuatku dapat bertemu dengan orang itu lagi. Semuanya di luar logika ku.Aku
berbohong pada kawanku ,bahwa orang itu akan datang,padahal, aku tak tahu sama
sekali kebenarannya. Tepat pukul 11.00 siang, aku melihatnya di atas sana. Di
balkon gedung ini, gedung yang sama denganku. Fokus ku buyar sesaat. Dia ada
disini.Aku sempat berbincang dengannya. Lebih relaks dari sebelumnya. Mungkin,
karena aku telah 4 kali bertemu denganya. Walau dalam setiap pertemuan ada
jangka waktu yang cukup lama.
Semenjak
hari itu, aku tak pernah mendapatkan akal sehatku kembali. Rasanya ada sesak
yang mengerang untuk di keluarkan. Ada rindu yang menuntut untuk di curahkan. Aku
tak bisa berbuat apapun. Dalam setiap detik yang kulalui dengan perasaan
gelisah. Tuhan memang selalu ada untuk sekedar mendengar keluh kesahku
tentangnya.
Pada
malam sebelumnya, aku tahu hari ini akan datang. Dalam balutan gelap yang ku
rasakan sepi. Hening, hanya tetes air di kamar mandi yang dapat ku dengar. Atas
rasa rindu yang tak pernah terbalaskan. Aku tak tahu pada siapa aku harus
melepaskan semua sesak yang tertahan cukup lama. Sudah setahun sejak pertemuan
terakhirku. Aku masih saja berharap untuk dapat bertemu denganya lagi. Aku
bercerita pada tuhan malam itu. Ku ceritakan semua nya, tanpa ada yang tersisa.
Aku tak pernah malu mengatakan ini pada tuhan. Karena ini bukan kali pertama
aku bercerita tentang orang itu pada tuhan. Dengan sadar, aku tahu bahwa semua
yang ku rasakan sekarang adalah atas perasaan yang tuhan beri pada seseorang
yang diciptakan-Nya begitu sempurna. Tuhan yang telah mengizinkanku dapat
mengagumi ciptaannya itu. Namun aku sadar diri. Walau sudah sejak pertama aku
mengagumi orang itu,aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa menjadi bagian
yang diperhitungkan dalam hidupnya. Inilah masalah yang tuhan siratkan dalam
setiap pertemuan antara aku dengan orang tersebut.
Sambil
terus bercerita pada tuhan. Tak terasa , air mata yang biasanya dapat ku
bendung, akhirnya tumpah mengalir dengan riangnya di kedua pipiku. Orang itu,
telah berhasil membuatku terjebak dalam rasa kagumku pada nya. Orang itu,
berhasil membuatku kehilangan akal sehat.
“Oh tuhan,aku benar-benar
menyerahkan semua takdir ku pada-Mu.Alasan mengapa aku berjalan hingga ke
tempat ini adalah agar aku tak terlalu sakit menerima kenyataan saat tiba
disini. Saat aku berjalan , maka aku dapat merasakan lelah, sehingga saat
harapanku pupus, aku akan berhenti untuk tidak meyakini lagi,karena meyakini
seorang diri itu sangat melelahkan.” Kataku dalam hati
Saat
aku hendak keluar melewati gerbang tinggi ini, aku terdiam. Mataku berhasil
menangkap objek yang luar biasa membuatku terkejut. Mobil itu,mobil yang selalu
membawa orang itu kemanapun ia pergi , berlalu di hadapanku. Aku berlari
mengejar mobil tersebut. Lalu , mobil itu pun berhenti dan seseorang yang ku
harapkan keluar dan menghampiriku yang kelelahan karena mengejarnya. Ya ,
karena kelelahan mengejarnya.Sesederhana kata-kata ku,bahwa mengejarnya selama
ini dan sejauh ini , itu sangat melelahkan. Namun, itu hanya ada dalam
khayalanku saja. Pada kenyataanya , aku masih terdiam disini. Aku tak melakukan
apapun. Aku hanya mampu melihat mobil itu berlalu dari hadapanku dan menjauh
lalu menghilang perlahan. Tak ada yang terjadi. Tak ada seseorang yang turun
dari mobil tersebut. Tak ada hal seperti itu. Hanya gesekan ban pada jalan raya
yang tersisa, atau bahkan asap mobil itu yang berhasil ku hirup saat ini. Aku
tertunduk lesu. Ini benar-benar akhir rupanya. Semua agenda telah berjalan
dengan baik , tuhan telah menyelesaikan antara aku dan dia. Ya , manusia yang
sempurna itu. Entah apa yang harus ku
katakana untuk terakhir kalinya. Tapi , aku sungguh berterima kasih padanya. Karena orang itu, aku bisa merasakan keadaan
yang begitu rumit dalam sepanjang hidupku. Karena orang itu, aku belajar untuk
terus tahu diri. Dan karena orang itu pula, aku belajar untuk dapat terlihat
pantas dihadapannya. Jujur , sulit memang menerima kenyataanya , tapi mau
diapakan lagi??
Perlahan
aku melambaikan tanganku , sebagai salam pertemuan juga perpisahan yang begitu
tak pernah ku bayangkan. Seolah telah merelakan itu pergi , sekali lagi,aku
menahan sesak ku ini.
“Sehebat raja yang begitu di kagumi
rakyatnya , kamu adalah raja terhebat yang aku temui dalam dunia nyata . Kamu
mungkin hanya mengenalku sekedarnya saja . Namun , aku tak bisa mengelak bahwa
aku begitu mengagumi rajaku yang hebat ini . Untuk dapat mengenalmu , aku butuh
2 kali pertemuan .Untuk dapat tertawa di hadapanmu , aku harus melewati 3
pertemuan . Untuk dapat merasakan bahwa
aku ini cukup diperhitungkan di depanmu , butuh 4 kali pertemuan . Aku harus
menunggu selama itu . Tapi , dalam masa tungguku itu , aku dapat melakukan hal
luar biasa agar saat kita bertemu kembali aku terlihat pantas untuk sekedar
diajak bicara . Kamu , yang secara tidak sadar mengajarkan ku untuk
dapat tahu diri . Kamu , yang tanpa sadar membuatku mengerti bahwa tak mudah
memiliki hal luar biasa dalam hidup ini . Terimakasih , terimakasih ,
terimakasih dan terimakasih atas semua kesempatan ini . Terimakasih telah rela membiarkan ku masuk
dalam setiap waktu berharga mu . Terimakasih sudah menyetujui untuk kebetulan
mengisi beberapa waktu dalam hidupku . Perjanjian tersirat antara aku , kamu , dan tuhan telah terpenuhi . Mengagumi mu ,
aku tak pernah melupakan campur tangan tuhan di dalamnya . Karena tuhan yang
memberiku perasaan ini,maka semuanya aku kembalikan lagi pada tuhan . Selamat
berjuang dalam jalanmu wahai rajaku . Sampai jumpa pada kisah yang lain . Aku
hanya selalu berharap , aku pun masih akan menjadi bagian di masa depanmu”
Dedicated
For My SRF
With Love
Naadaa Kamilia