Rabu, 08 Agustus 2018

Life is a Pain

Hari ini ada seorang teman yang tidak sengaja berada di satu acara yang sama. Tampilanya necis, dengan blazzer, sepatu hak tinggi, make-up yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik.  Berbeda dengan saya yang hanya mengenakan baju semi kemeja warna coklat, kerudung yang berantakan dan tidak tegap, sepatu flat yang sudah terlihat lusuh, dan lipstik berwarna peach yang tidak terlihat jelas. Saya masuk ke ruangan tunggu yang sekaligus ruangan make-up dan ganti pakaian untuk tim tari. Kebetulan hari ini saya on duty sebagai official tim tari salah satu prodi di UGM. Saat saya masuk ruangan,  tim tari menyambut saya seperti biasanya, lalu teman saya tadi meminta saya duduk di sebelahnya. Lalu saya saya memulai percakapan untuk mencairkan suasana.
"Lah bukan nya kamu lagi magang ya?"
"Iya Naad, sengaja dateng kan di suruh jadi pembicara"
Jawaban dengan nada yang terdengar membanggakan diri. 

Baik, begini kelanjutannya. Teman saya sedang melakukan magang di salah satu perusahaan BUMN yang fokus terhadap pengembangan lahan pariwisata. Lebih detailnya dia menjelaskan kantornya berada di Bali. Berdasarkan penjelasannya, terlihat jelas bahwa ia sedang membanggakan dirinya atas pencapaian yang ia raih. Bagaimana tidak, magang di tempat enak tanpa halangan dan rintangan. Kira-kira begitu ceritanya. Diruangan itu tidak hanya ada saya saja, tetapi dengan tim rias dan juga para penari yang sedang bersiap-siap. Rata-rata penari adalah adik tingkat saya dan sisanya adalah teman satu angkatan saya. Bohong kalau tidak ada yang menyimak cerita teman saya tadi. Saya yakin semua yang ada di ruangan itu menyimak dan terkagum-kagum. Saya mengakhiri pembicaraan itu dengan bertanya " Bapak mu kerja di BUMN kan? " teman saya langsung jawab "iya", lalu kami sama-sama diam tak berbicara lagi hingga waktunya teman saya untuk naik ke atas panggung sebagai pembicara. 

Lalu, saya menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulutnya. Saat itu saya dan Tim Tari sudah pindah ke belakang panggung, otomatis saya bisa mendengar pembahasan teman saya. Teman saya banyak menyampaikan petuah, kata-kata bijak, dan hal-hal wajar lain yang diberikan kakak tingkat kepada adik tingkatnya saat baru memasuki perguruan tinggi. Saya membatin " Kok bisa ya dia sebangga itu, padahal apa yang dia dapat saat ini adalah hasil titipan bapaknya". Teman saya itu tidak tahu rasanya jadi orang biasa yang harus menelpon banyak perusahaan hanya untuk melamar sebagai mahasiswa magang. Teman saya belum pernah merasakan penolakan saat semua lamaran yang diajukan tidak di follow-up kembali. Teman saya tidak tahu bagaimana rasanya bolak-balik interview dengan uang pas-pas an.

Lah, bagaimana saya tahu?. Karena memang begitu faktanya. Saya tahu betul siapa Bapaknya. Dia punya pengaruh yang cukup kuat, bahkan kalau mau, dia  bisa mengajak teman-teman satu kelas untuk ikut magang bersama dia di tempat yang sama. Teman saya itu mana pernah bingung mencari tempat magang, semuanya sudah disiapkan oleh Bapak nya. Teman saya mana pernah tahu sulitnya bolak-balik interview ke luar kota dengan uang pas-pas-an. Dia saja bisa terbang dari Bali menuju Jogja dalam beberapa jam saat menerima panggilan untuk menajdi pembicara, lalu setelahnya dia kembali lagi ke Bali untuk melanjutkan magangnya. Padahal acara yang ia datangi tidak begitu besar dans ama sekali tidak memberikan bayaran, hanya sebuah plakat saja dengan tulisan "pembicara". 


Tiba-tiba saya merasa menjadi orang bodoh untuk sesaat. Saya benar-benar berpikir apakah pihak panitia benar-benar menyeleksi pembicara dengan sangat baik? seharusnya untuk sebuah acara motivasi, materi yang diberikan bukan hanya hal-hal menyenangkan saja, tapi juga perjuangan-perjuangan untuk mencapai kesenangan tadi. Saya paham betul ada banyak sekali teman-teman saya yang mendapatkan tempat magang di tempat yang cukup baik dengan segala perjuangannya. Saya paham betul bagaimana teman-teman saya berkeluh kesah karena sulit mendapatkan tempat magang yang bagus tanpa adanya koneksi. Teman-teman saya juga mahasiswa UGM, tapi bermodalkan label universitas saja tidak menjamin jalan yang dilalui akan sama. Seperti saya. Bapak Ibu saya hanya rakyat biasa. Tidak punya kuasa untuk bisa menempatkan orang ditempat-tempat tertentu. Saya sebagai anaknya harus mencari satu per satu tempat yang mengizinkan saya untuk menjadi mahasiswa magang. Kehabisan banyak pulsa, menghabiskan uang untuk tiket PP Jogja-Jakarta untuk proses interview. Belum lagi harus mencari tempat tingal sementara selama magang. Pada akhirnya? setelah melalui masa-masa kritis tersebut, saya menyadari bahwa saya orang hebat walau saya rakyat biasa. Saya bisa magang di tempat yang baik dengan perjuangan saya. Bahkan sekarang teman-teman saya berlomba-lomba meminta informasi kepada saya bagaimana magang di temoat tersebut. Bukannya saya sombong, saya hanya membuka harapan teman-teman semua bahwa rakyat biasa pun sebenarnya punya kesempatan yang sama. Bedanya perjuangan kita jauh lebih rumit, tapi itulah proses. Proses yang membuat kita bisa menghargai setiap kenikmatan yang dirasakan. 


Jadi pada intinya, tulisan ini saya buat untuk semua mahasiswa baru dimanapun kalian berkuliah. Tidak masalah jika kamu tidak bersinar di kampus mu. Tidak masalah jika kamu tidak punya koneksi di mana-mana. Perjuangan yang kamu lakukan dengan upaya mu sendiri adalah sebuah pencapaian yang lebih baik dari apapun. Syukur-syukur kalau bisa lebih baik.Tidak perlu minder, kalau semua manusia diciptakan sama oleh Tuhan, maka kita tidak akan pernah bisa belajar menghargai. Saya tidak mempengaruhi siapapun untuk tidak percaya dengan kisah-kisah inspiratif, akan lebih baik jika kita benar-benar tahu sisi perjuangannya.

 Sederhana nya begini, mereka yang terlihat enak ya memang hidupnya enak, tidak salah untuk menjadikan mereka ROLE MODEL. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang dia miliki dan tidak ada di diri kita, maka sekeras apapun kamu mengaguminya akan tetap ada jalan yang bersimpangan. Semakin kita besar, semakin kita tahu bahwa hidup tidak semudah kata-kata mutiara. Bagi saya, orang yang benar-benar hebat adalah mereka yang berjuang mati-matian untuk dirinya tetapi tidak lupa untuk membantu yang lain. Terlepas dari orang lain akan mengingat jasa mu atau tidak, yang terpenting kamu sudah berusaha menjadi orang baik. Mereka belum tentu bisa membantumu disaat sedang susah. 

Tidak perlu khawatir, kita punya waktu bersinar kita masing-masing. Selamat menempuh masa-masa sulit. Maksud saya adalah sulit menemukan orang baik dilingkungan yang mulai membutuhkan banyak nyali untuk bertahan. 

0 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Translate

Pages

Blogger templates

Blogroll

Author