Teruntuk angan-angan yang telah dipenuhi keinginan
Teruntuk harapan dan cita-cita yang hendak segera terbang
Pada malam-malam yang mulai terisi kerlipan bintang
Pada hembusan angin yang mulai terhalang sekat
Jika penyesalan memiliki bentuk, maka buruk rupa ku tidaklah berarti
Jika penyesalan memiliki suara, maka teriakku tidaklah terdengar
Penyesalan hanya muncul dalam jelmaan sebuah perasaan
Melebur bersama waktu yang detik nya seolah mulai beranjak pelan
Pada kesalahan dan nestapa yang tidak lagi memiliki arti
Seolah menjadi kebiasaan untuk terus diulangi
Hal seperti ini bukanlah cinta, bukan nafsu juga, namun kesempatan
Menerka-nerka pada sang waktu
Meyakini setiap celah yang mulai membelah
Kamu, ia, dan perempuan itu
Tidak pernah ada yang tahu siapa yang benar-benar salah
Tapi maaf selalu memiliki cara untuk dapat menghampiri
Teruntuk harapan dan cita-cita yang hendak segera terbang
Pada malam-malam yang mulai terisi kerlipan bintang
Pada hembusan angin yang mulai terhalang sekat
Jika penyesalan memiliki bentuk, maka buruk rupa ku tidaklah berarti
Jika penyesalan memiliki suara, maka teriakku tidaklah terdengar
Penyesalan hanya muncul dalam jelmaan sebuah perasaan
Melebur bersama waktu yang detik nya seolah mulai beranjak pelan
Pada kesalahan dan nestapa yang tidak lagi memiliki arti
Seolah menjadi kebiasaan untuk terus diulangi
Hal seperti ini bukanlah cinta, bukan nafsu juga, namun kesempatan
Menerka-nerka pada sang waktu
Meyakini setiap celah yang mulai membelah
Kamu, ia, dan perempuan itu
Tidak pernah ada yang tahu siapa yang benar-benar salah
Tapi maaf selalu memiliki cara untuk dapat menghampiri