Kamis, 25 Februari 2016

Langkah Rindu




“Rasanya , aku ingin berlari yang jauh saja. Tapi,aku tak berhasil membawamu beserta ku jika aku lari sekarang.”
Entah sudah berapa lama aku menapaki jalan ini. Peluh tak bisa ku redam agar tak terus menetes dengan bahagianya di seluruh tubuhku. Mentari pagi ini sudah menampakan diri. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang cerah untuk sebagian orang. Pukul 07.00 di kamis pagi. Aku harus terus berjalan agar tak terlambat menyambut kedatangannya.Oh bukan, tapi kedatangan mereka. Sejak pukul 06.00 pagi ini, aku sudah bergegas untuk pergi ke sekolahku. Terasa konyol memang, tapi inilah kenyataannya. Hari ini , akan menjadi hari yang begitu membahagiakan untukku jika berhasil berjalan menuju ke sekolah. Sepanjang jalan , otak ku tak hentinya memutar kenangan itu. Seolah aku kembali pada masa itu  , semuanya terputar dalam fikiranku bagai roll film lama yang di putar kembali. Aku masih ingat jelas, kali pertama berjumpa dengannya. Saat itu, aku hanya terduduk di sudut ruangan , tidak sendirian memang, ada banyak orang lainnya. Pertama kali itulah , yang membuatku mulai merasa gila karna rasa kagum yang tiba-tiba tumbuh menjadi ganas dan merenggut jiwaku perlahan. Semua orang membicarakannya, termasuk kawan-kawanku. Aku tak tahu mengapa mereka membicarakan orang itu. Bagai angin yang berhembus ditelingaku.Rasanya dingin menusuk saat semua pujian yang dilontarkan orang-orang itu tentang nya. Dia,yang terbaik katanya. Aku hanya mengangguk ragu saat mendengar penjelasan kawanku.Hingga akhirnya,dia, yang sedang kami perbincangkan , bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan ini.Aku ingat, sesaat sebelum ia pergi dari ruangan ini, orang itu tersenyum. Bukan padaku memang, tapi itulah senyum pertama yang membuatku berfikir bahwa tuhan begitu adil menciptakan makhluk sesempurna itu dengan senyum yang membuatku langsung jatuh hati padanya.  Dan hari itu pula saat dengan tak sengaja aku berlalu di hadapan 2 orang yang sedang berpelukan begitu erat.  Tidak, ada yang sedang membenamkan wajahnya pada tubuh seseorang sambil menangis.  Seperti sedang pupus harapannya, itu terdengar amat pilu , orang itu menangis dengan tersedu-sedu.  Perlahan ku lihat siapa orang itu.Ku palingkan wajah untuk melihatnya sambil terus berjalan di belakang kawan ku. Orang itu, dia menangis rupanya. Dan itulah pertama kalinya aku tahu bahwa tak ada manusia yang sesempurna dalam bayanganku.Saat semuanya gagal di raih, maka karang yang begitu keras pun, akan hancur jika terus diterpa air yang sangat banyak.
Semuanya sedang memenuhi fikiranku saat ini.Semua awal perjumpaan itu,sungguh aku tak pernah tahu akan ada kesempatan yang seindah itu dalam hidupku dapat bertemu dengannya. Gerbang tinggi menjulang dihadapanku.Dengan yakin, aku memasuki gerbang itu lalu berjalan menuju lapangan luas tempat kendaraan terparkir rapi. Aku gugup. Dapat ku rasakan detak jantung yang tak beraturan ini. Dengan seksama aku memeriksa kendaraan yang terparkir, namun hasilnya nihil. Aku tak mendapati mobil itu terparkir disini. Pikiranku melayang kembali. Pertama kali aku tahu namanya, pertama kali pula aku mendengar suaranya. Itu adalah kali kedua aku bertemu dengan nya dan itu pun secara tak sengaja . Aku  bertemu dengannya dalam satu meja pertandingan.Ini benar-benar menegangkan, saat aku tahu bahwa dia adalah rivalku. Namun, semuanya sirna saat hasilnya memihak pada tim ku. Lalu saat  menyapanya tanpa rasa malu ketika ia hendak pulang,aku tertawa melihat tingkahnya dan itu adalah yang tak pernah aku lupakan .  Rasanya, hari itu aku memang benar-benar bahagia.
Aku memutuskan untuk kembali saja. Mungkin lain waktu. Dan langkah kaki ku berjalan dengan perlahan meninggalkan tempat ini.
“Congratulation “ Orang itu berkata sambil mengulurkan tangannya padaku.
“Ah , thank you” Jawabku gugup
Itu kali ketiga  aku bertemu denganya lagi. Setelah momentum kami bersalaman.Ia bergegas pergi dari hadapanku. Aku melihat punggungnya yang kokoh itu, sambil mematung.
“Salahkah tuhan jika aku meyakini bahwa ini semua adalah rencana mu? Salahkah jika aku meyakini bahwa ini bukanlah kebetulan yang terus berulang? Aku dibuat kagum olehnya,salahkah jika aku begini tuhan?” Batinku seraya melangkah pergi dari tempatku berdiri.
Hari itu, aku berfikir bahwa itu yang terakhir kalinya. Mengapa demikian? Karena  rasanya tuhan telah memberi banyak hal tak terlupakan diluar dugaanku .  Mungkin, saat itulah tuhan berbisik “Perjumpaanya cukup dengan kau yang berhasil membuat kenangan yang tak terlupakan denganya” Jika memang itu terakhir, maka aku akan mengerti,bahwa ada batas waktu yang tuhan berikan agar kita tidak terlalu terbuai.
Karena itulah, aku masih tetap hidup sampai perjumpaan keempat ku denganya.Aku pikir, sebelumnya adalah yang terakhir.Namun, tuhan masih memiliki agenda untuk membuatku dapat bertemu dengan orang itu lagi. Semuanya di luar logika ku.Aku berbohong pada kawanku ,bahwa orang itu akan datang,padahal, aku tak tahu sama sekali kebenarannya. Tepat pukul 11.00 siang, aku melihatnya di atas sana. Di balkon gedung ini, gedung yang sama denganku. Fokus ku buyar sesaat. Dia ada disini.Aku sempat berbincang dengannya. Lebih relaks dari sebelumnya. Mungkin, karena aku telah 4 kali bertemu denganya. Walau dalam setiap pertemuan ada jangka waktu yang cukup lama.
Semenjak hari itu, aku tak pernah mendapatkan akal sehatku kembali. Rasanya ada sesak yang mengerang untuk di keluarkan. Ada rindu yang menuntut untuk di curahkan. Aku tak bisa berbuat apapun. Dalam setiap detik yang kulalui dengan perasaan gelisah. Tuhan memang selalu ada untuk sekedar mendengar keluh kesahku tentangnya.
Pada malam sebelumnya, aku tahu hari ini akan datang. Dalam balutan gelap yang ku rasakan sepi. Hening, hanya tetes air di kamar mandi yang dapat ku dengar. Atas rasa rindu yang tak pernah terbalaskan. Aku tak tahu pada siapa aku harus melepaskan semua sesak yang tertahan cukup lama. Sudah setahun sejak pertemuan terakhirku. Aku masih saja berharap untuk dapat bertemu denganya lagi. Aku bercerita pada tuhan malam itu. Ku ceritakan semua nya, tanpa ada yang tersisa. Aku tak pernah malu mengatakan ini pada tuhan. Karena ini bukan kali pertama aku bercerita tentang orang itu pada tuhan. Dengan sadar, aku tahu bahwa semua yang ku rasakan sekarang adalah atas perasaan yang tuhan beri pada seseorang yang diciptakan-Nya begitu sempurna. Tuhan yang telah mengizinkanku dapat mengagumi ciptaannya itu. Namun aku sadar diri. Walau sudah sejak pertama aku mengagumi orang itu,aku sadar bahwa aku tak akan pernah bisa menjadi bagian yang diperhitungkan dalam hidupnya. Inilah masalah yang tuhan siratkan dalam setiap pertemuan antara aku dengan orang tersebut.
Sambil terus bercerita pada tuhan. Tak terasa , air mata yang biasanya dapat ku bendung, akhirnya tumpah mengalir dengan riangnya di kedua pipiku. Orang itu, telah berhasil membuatku terjebak dalam rasa kagumku pada nya. Orang itu, berhasil membuatku kehilangan akal sehat.
“Oh tuhan,aku benar-benar menyerahkan semua takdir ku pada-Mu.Alasan mengapa aku berjalan hingga ke tempat ini adalah agar aku tak terlalu sakit menerima kenyataan saat tiba disini. Saat aku berjalan , maka aku dapat merasakan lelah, sehingga saat harapanku pupus, aku akan berhenti untuk tidak meyakini lagi,karena meyakini seorang diri itu sangat melelahkan.” Kataku dalam hati
Saat aku hendak keluar melewati gerbang tinggi ini, aku terdiam. Mataku berhasil menangkap objek yang luar biasa membuatku terkejut. Mobil itu,mobil yang selalu membawa orang itu kemanapun ia pergi , berlalu di hadapanku. Aku berlari mengejar mobil tersebut. Lalu , mobil itu pun berhenti dan seseorang yang ku harapkan keluar dan menghampiriku yang kelelahan karena mengejarnya. Ya , karena kelelahan mengejarnya.Sesederhana kata-kata ku,bahwa mengejarnya selama ini dan sejauh ini , itu sangat melelahkan. Namun, itu hanya ada dalam khayalanku saja. Pada kenyataanya , aku masih terdiam disini. Aku tak melakukan apapun. Aku hanya mampu melihat mobil itu berlalu dari hadapanku dan menjauh lalu menghilang perlahan. Tak ada yang terjadi. Tak ada seseorang yang turun dari mobil tersebut. Tak ada hal seperti itu. Hanya gesekan ban pada jalan raya yang tersisa, atau bahkan asap mobil itu yang berhasil ku hirup saat ini. Aku tertunduk lesu. Ini benar-benar akhir rupanya. Semua agenda telah berjalan dengan baik , tuhan telah menyelesaikan antara aku dan dia. Ya , manusia yang sempurna itu.  Entah apa yang harus ku katakana untuk terakhir kalinya. Tapi , aku sungguh berterima kasih padanya.  Karena orang itu, aku bisa merasakan keadaan yang begitu rumit dalam sepanjang hidupku. Karena orang itu, aku belajar untuk terus tahu diri. Dan karena orang itu pula, aku belajar untuk dapat terlihat pantas dihadapannya. Jujur , sulit memang menerima kenyataanya , tapi mau diapakan lagi??
Perlahan aku melambaikan tanganku , sebagai salam pertemuan juga perpisahan yang begitu tak pernah ku bayangkan. Seolah telah merelakan itu pergi , sekali lagi,aku menahan sesak ku ini.
“Sehebat raja yang begitu di kagumi rakyatnya , kamu adalah raja terhebat yang aku temui dalam dunia nyata . Kamu mungkin hanya mengenalku sekedarnya saja . Namun , aku tak bisa mengelak bahwa aku begitu mengagumi rajaku yang hebat ini . Untuk dapat mengenalmu , aku butuh 2 kali pertemuan .Untuk dapat tertawa di hadapanmu , aku harus melewati 3 pertemuan  . Untuk dapat merasakan bahwa aku ini cukup diperhitungkan di depanmu , butuh 4 kali pertemuan . Aku harus menunggu selama itu . Tapi , dalam masa tungguku itu , aku dapat melakukan hal luar biasa agar saat kita bertemu kembali aku terlihat pantas untuk sekedar diajak bicara . Kamu  ,  yang secara tidak sadar mengajarkan ku untuk dapat tahu diri . Kamu , yang tanpa sadar membuatku mengerti bahwa tak mudah memiliki hal luar biasa dalam hidup ini . Terimakasih , terimakasih , terimakasih dan terimakasih atas semua kesempatan ini  . Terimakasih telah rela membiarkan ku masuk dalam setiap waktu berharga mu . Terimakasih sudah menyetujui untuk kebetulan mengisi beberapa waktu dalam hidupku . Perjanjian tersirat antara aku , kamu  , dan tuhan telah terpenuhi . Mengagumi mu , aku tak pernah melupakan campur tangan tuhan di dalamnya . Karena tuhan yang memberiku perasaan ini,maka semuanya aku kembalikan lagi pada tuhan . Selamat berjuang dalam jalanmu wahai rajaku . Sampai jumpa pada kisah yang lain . Aku hanya selalu berharap , aku pun masih akan menjadi bagian di masa depanmu”

Dedicated For My SRF
With Love Naadaa Kamilia



Diberdayakan oleh Blogger.

Follow us on facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Contact Us

Translate

Pages

Blogger templates

Blogroll

Author