Entah lah, aku hanya menemukan namamu sebelumnya.Tanpa tau bagaimana rupa pemilik nama itu.Aku lupa tepatnya kapan, saat itu aku hanya menghabiskan waktuku untuk menahan lapar dan dahaga dengan cara memanggil sederetan nama yang ada di atas tumpukan map yang siap untuk ku selesaikan.Satu per satu tumpukan itu mulai menipis hingga satu nama yang igin kuselesaikan , namun terhenti karena aku tak kuasa untuk memanggil namanya keluar dari mulutku ini.Perlahan namun pasti satu nama yang ku tunggu bagaimana rupanya , ternyata ada sejak tadi di belakangku.Celana jeans pendek yang dikenakan, baju lengan panjang yang sengaja ia singsingkan dan map berwarna kuning yang sedang dipegangnya erat.Aku hanya menatapnya sesaat sembari berlagak tak peduli bahwa pertanyaan dari sebaris nama yang kutemui dimiliki oleh rupa sedemikian itu.
Berapa banyak waktu yang kulewatkan semenjak hari itu.Ada sederet jadwal mendatang yang harus kujalani dengan sukacita disini.Kawan ku begitu riang menyambut pagi yang berbeda di depan gerbang sekolah.Febri , sang terhormat datang dengan wajah terkejut karena sekumpulan orang telah duduk menunggu hingga acara dimulai.Aku beranjak dari ruang kecil yang terjepi diantara kelas-kelas di sekolahku.Dengan terburu-buru aku menuju tempat terluas di hadapanku dan menghadapi banyak manusia asing disini.Kata demi kata yang ku ucapkan , dengan guyonan khas yang juga dilakukan oleh kawanku Ramses.Lagi dan lagi, aku dan Ramses dihadapkan pada berlembar lembar kertas dengan hiasan tinta hitam permanen yang isinya harus ku sebutkan satu persatu.Ada yang membuatku mengulas sebuah senyum dalam wajahku,ada nama yang tak asing yang pemiliknya sudah ku tahu bagaimana rupanya.Mahakarya tuhan yang begitu indah yang membuat ku memilih namanya tanpa ragu,walau kenyatannya aku baru tahu rupanya dalam satu perjumpaan.Lagi dan lagi, satu detik dua detik tiga detik berlalu , ada sedikit ragu yang kurasa saat sosok itu tak kunjung beranjak.Ada rasa khawatir jika beberapa waktu kedepan ia tak menjadi bagian dari kenangan yang hanaya kan terukir dalam 3 langkah tahun-tahun kedepan.Namun, ada yang beranjak lemah dan melangkah agak ragu di antara kerumunan orang -orang itu,membuatku menatap tak percaya dan seolah melumerkan rasa khawatir yang telah memuncak.Hari yang terasa begitu singkat.Hingga akhirnya sang rembulan muncul menghiasi langit malam.Raga yang lelah mulai terkulai dalam balutan selimut yang begitu hnagat,hingga terjaga.
Kumandang panggilan tuhan telah membangunkan tubuh malas ini untuk segera pergi menuju gerbang besar disebrang sana.Hari yang begitu berat saat semuanya harus berjalan seperti seharusnya.Ada secercah energi yang merassuk kedalam tubuh ku , saat ada harap yang tergabmbar dalam raut wajah yang tenah dari raga yang sedang berdiri tegak di tengah lapangan luas itu.Dalam hati aku sesumbar,mungkin aku bisa mendapat senyum utuh dari orang itu,senyum tulus yang bisa aku lihat saat ia memberikannya kepada kawanku yang begitu cantik jelita.Waktu sepekan berjalan begitu cepat, ada ratusan pertanyaan yang kubuat tanpa pernah aku tahu kapan jawabannya akan segera datang.Aku tertunduk lemas saat kudapati sesobek kertas dihiasi tinta hitam yang tak begitu jelas.Ada sebaris nama yang jelas kukenal dekat orangnya,wanita cantik yang sejak awal aku telah menyangka bahwa akan menjadi wanita pertama yang akan dekat denganya.Laki-laki dengan sketsa wajah sempurna yang dihias tuhan,melabuhkan hatinya di dermaga yang begitu tepat.Aku melangkah mundur perlahan.Kudapati rasa sakit yang menggebu dalam hatiku.Getaran yang tak beraturan dalam setiap aliran darahku.Aku kalah,aku gagal,aku tak bisa.Tak ada ang namanya keajaiban mengenai hati dan perasaan seseorang.Tidak ada yang namanya menerima apa adanya selama paras yang indah begitu jelas terlihat.Aku melangkah mundur dengan senyum simpul yang berhasil kubuat.Ada sekumpulan manusia yang terduduk dihadapanku,ada satu dari sekian banyak manusia yang berhasil meretakan hatiku tanpa ia sadari.Namun waktu tetap berjalan.Seolah tak mungkin untuk menungguku,apapun yang akan dan sudah meretakan hatiku,tak mungkin bisa menyelamatkan nya dari rasa sakit.
Aku mengakhirinya dengan baik.Ada rasa lelah yang begitu berat kupikul dalam tubuhku.Kawan yang telah bisa merebahkan tubuhnya dengan sukacita,dan aku yang masih mencoba berbaring dengan rasa sakit dan pilu di hati.Dalam kenangan yang tak mungkin terlupakan,terimakasih telah meninggalkan sedikit kenangan yang bisa ku ingat untuk beberapa waktu kedepan.Ada papan berwarna violet yang tergantung rapi di tempat yang begitu naman bagiku,tempat berkeluh kesah dan tempatku berdoa dalam pelukan tuhan.Dengan segala kelebihan yang tak aku miliki, terimakasih telah membuatku sadar diri untuk tidak pernah jatuh hati pada makhluk sempurna sepertimu.
Berapa banyak waktu yang kulewatkan semenjak hari itu.Ada sederet jadwal mendatang yang harus kujalani dengan sukacita disini.Kawan ku begitu riang menyambut pagi yang berbeda di depan gerbang sekolah.Febri , sang terhormat datang dengan wajah terkejut karena sekumpulan orang telah duduk menunggu hingga acara dimulai.Aku beranjak dari ruang kecil yang terjepi diantara kelas-kelas di sekolahku.Dengan terburu-buru aku menuju tempat terluas di hadapanku dan menghadapi banyak manusia asing disini.Kata demi kata yang ku ucapkan , dengan guyonan khas yang juga dilakukan oleh kawanku Ramses.Lagi dan lagi, aku dan Ramses dihadapkan pada berlembar lembar kertas dengan hiasan tinta hitam permanen yang isinya harus ku sebutkan satu persatu.Ada yang membuatku mengulas sebuah senyum dalam wajahku,ada nama yang tak asing yang pemiliknya sudah ku tahu bagaimana rupanya.Mahakarya tuhan yang begitu indah yang membuat ku memilih namanya tanpa ragu,walau kenyatannya aku baru tahu rupanya dalam satu perjumpaan.Lagi dan lagi, satu detik dua detik tiga detik berlalu , ada sedikit ragu yang kurasa saat sosok itu tak kunjung beranjak.Ada rasa khawatir jika beberapa waktu kedepan ia tak menjadi bagian dari kenangan yang hanaya kan terukir dalam 3 langkah tahun-tahun kedepan.Namun, ada yang beranjak lemah dan melangkah agak ragu di antara kerumunan orang -orang itu,membuatku menatap tak percaya dan seolah melumerkan rasa khawatir yang telah memuncak.Hari yang terasa begitu singkat.Hingga akhirnya sang rembulan muncul menghiasi langit malam.Raga yang lelah mulai terkulai dalam balutan selimut yang begitu hnagat,hingga terjaga.
Kumandang panggilan tuhan telah membangunkan tubuh malas ini untuk segera pergi menuju gerbang besar disebrang sana.Hari yang begitu berat saat semuanya harus berjalan seperti seharusnya.Ada secercah energi yang merassuk kedalam tubuh ku , saat ada harap yang tergabmbar dalam raut wajah yang tenah dari raga yang sedang berdiri tegak di tengah lapangan luas itu.Dalam hati aku sesumbar,mungkin aku bisa mendapat senyum utuh dari orang itu,senyum tulus yang bisa aku lihat saat ia memberikannya kepada kawanku yang begitu cantik jelita.Waktu sepekan berjalan begitu cepat, ada ratusan pertanyaan yang kubuat tanpa pernah aku tahu kapan jawabannya akan segera datang.Aku tertunduk lemas saat kudapati sesobek kertas dihiasi tinta hitam yang tak begitu jelas.Ada sebaris nama yang jelas kukenal dekat orangnya,wanita cantik yang sejak awal aku telah menyangka bahwa akan menjadi wanita pertama yang akan dekat denganya.Laki-laki dengan sketsa wajah sempurna yang dihias tuhan,melabuhkan hatinya di dermaga yang begitu tepat.Aku melangkah mundur perlahan.Kudapati rasa sakit yang menggebu dalam hatiku.Getaran yang tak beraturan dalam setiap aliran darahku.Aku kalah,aku gagal,aku tak bisa.Tak ada ang namanya keajaiban mengenai hati dan perasaan seseorang.Tidak ada yang namanya menerima apa adanya selama paras yang indah begitu jelas terlihat.Aku melangkah mundur dengan senyum simpul yang berhasil kubuat.Ada sekumpulan manusia yang terduduk dihadapanku,ada satu dari sekian banyak manusia yang berhasil meretakan hatiku tanpa ia sadari.Namun waktu tetap berjalan.Seolah tak mungkin untuk menungguku,apapun yang akan dan sudah meretakan hatiku,tak mungkin bisa menyelamatkan nya dari rasa sakit.
Aku mengakhirinya dengan baik.Ada rasa lelah yang begitu berat kupikul dalam tubuhku.Kawan yang telah bisa merebahkan tubuhnya dengan sukacita,dan aku yang masih mencoba berbaring dengan rasa sakit dan pilu di hati.Dalam kenangan yang tak mungkin terlupakan,terimakasih telah meninggalkan sedikit kenangan yang bisa ku ingat untuk beberapa waktu kedepan.Ada papan berwarna violet yang tergantung rapi di tempat yang begitu naman bagiku,tempat berkeluh kesah dan tempatku berdoa dalam pelukan tuhan.Dengan segala kelebihan yang tak aku miliki, terimakasih telah membuatku sadar diri untuk tidak pernah jatuh hati pada makhluk sempurna sepertimu.